Minggu, 12 Mei 2013

PERBEDAAN GENDER DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA



A.    Latar Belakang
Perbedaan perempuan dan laki-laki hampir terjadi dalam berbagai bidang. Perbedaan tersebut terjadi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, politik dan sebagainya. Pembelajaran di sini hendak  mendiskusikan  menjelaskan  perbedaan  gender  yang terjadi  dalam  dunia  pendidikan.  Beberapa studi menunjukkan  bahwa  dalam pencapaian prestasi belajar siswa, ternyata  juga  terjadi perbedaan. Perempuan hampir selalu mempunyai prestasi belajar yang lebih rendah daripada laki-laki. Salah satu studi dilakukan oleh Meighan (1981) pada hasil General Certificate of Education (GCE) di Amerika, ternyata menghasilkan data. Pertama, sampai usia 11 tahun, laki-laki dan perempuan pada umumnya mempunyai tingkat prestasi yang  sama.  Kedua,  perbandingan  jumlah  siswa  laki-laki  dan  perempuan  yang memperoleh nilai “A”, pada beberapa mata pelajaran, menunjukkan hasil: Fisika: 6:1; Matematika: 4:1; Kimia: 3:1; Biologi: 9:8; Menggambar: 200:1; Bahasa: 1:2. Secara  lebih  spesifik  studi  ini  berupaya  melihat  perbedaan  gender antara  perempuan  dan  laki-laki  di  SMP/SMU  dalam  perolehan prestasi  belajar. 
Berbagai studi penelitian  telah menemukan bahwa perbedaan-perbedaan gender berpengaruh dalam pembelajaran matematika  terjadi  selama usia  sekolah dasar  (Brandon, 1985). Studi  lainnya menyatakan  bahwa  adanya  pengaruh  perbedaan  gender  dapat  diamati  pada  siswa SMP  (Benbow, 1988)  dan  pada  siswa SMA  (Leahey,  2001). Di SMA,  kesenjangan  gender  yang  cenderung  pada laki-laki ditemukan  lebih umum, khususnya pada  ranah pemecahan masalah dan aplikasi. Namun demikian,  perbedaan  tersebut  kecil  dan  perbedaan  gender  juga  dapat  berkurang  dari  waktu  ke waktu.  
Permasalahan gender dalam pendidikan merupakan salah satu isu yang cukup krusial. Isu gender dalam pendidikan merupakan implikasi tidak langsung dari  budaya  patriarkhi  yang  berkembang  di  masyarakat.  Budaya  patriarkhi membedakan  posisi  laki-laki  dan  perempuan.  Perbedaan  posisi  dan  peran tersebut  juga  menyebabkan  perbedaan  prestasi  belajar  antara  laki-laki  dan perempuan.  Dalam makalah  ini  mencoba  mengangkat  permasalahan  apakah  ada perbedaan prestasi belajar siswa laki-laki dan perempuan dalam pembelajaran matematika di sekolah?
B.  Perbedaan Gender dalam Pendidikan
Pengertian  gender  adalah  suatu  sifat  yang melekat  pada  kaum  laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Menurut Jagtenberg dan D'Alton  (1995),  “gender and  sex are not  the  same  thing. Gender specifically refers  to  the social meanings attached  to biological differences.  ... The way we see ourselves and the way we interact are affected by our internalisation of values and assumptions about gender”.  
Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara laki-laki dan perempuan terjadi  melalui proses yang sangat panjang, contohnya melalui proses sosialisasi, ajaran keagamaan  serta kebijakan negara, sehingga perbedaan-perbedaan tersebut seolah-olah dianggap dan  dipahami sebagai kodrat laki-laki dan perempuan. Selanjutnya, perbedaan gender dapat menghasilkan bentuk-bentuk marginalisasi, ketidakadilan  (gender  inequalities), subordinasi, pembentukan  stereotipe, beban kerja ganda  (double burden)  serta bentuk-bentuk  kekerasan.  Kaum  perempuan  adalah  pihak  yang  paling  sering dirugikan dalam praktik-praktik perbedaan gender ini, maka konsep bias gender dapat diartikan pembentukan sifat atau karakter laki-laki dan perempuan secara sosial dan kultural yang menguntungkan  kaum  laki-laki  dan merugikan  kaum perempuan (Fakih, 2004). Namun dalam perkembangannya, konsep bias gender inipun  dapat  berlaku  sebaliknya.  Ketika  laki-laki  berada  pada  posisi  yang dirugikan, maka hal inipun dapat digolongkan dalam bentuk bias gender. 
Perbedaan  gender  dalam  pendidikan  dapat  terjadi  dalam  perolehan prestasi belajar. Prestasi belajar menurut Syah, sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah  (2008)  adalah  “taraf  keberhasilan  siswa  dalam  mempelajari  materi pelajaran  di  sekolah  yang  dinyatakan  dalam  bentuk  skor  yang  diperoleh  dari hasil  tes mengenai  sejumlah materi pelajaran  tertentu”. Menurut Kamus Besar Bahasa  Indonesia  (Depdiknas,  2008)  bahwa  yang  dimaksud  dengan  prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan  oleh  guru”.  Berdasarkan  uraian  tersebut  dapat  disimpulkan  bahwa prestasi  belajar  adalah  tingkat  keberhasilan  yang  dicapai  dari  suatu  kegiatan atau  usaha  yang  dapat  memberikan  kepuasan  emosional,  dan  dapat  diukur dengan alat atau tes tertentu. 
Perempuan dalam proses pembelajaran di kelas, pada dasarnya memiliki hak dan  kesempatan  yang  sama  untuk  aktif  dalam  proses  pembelajarannya. Perempuan  dan  laki-laki  dalam  setiap  situasi  pendidikan  tersebut  sama-sama terbuka untuk mengakses buku-buku di kelas. Namun, bahan-bahan belajar dan sikap  guru  yang  secara  halus  dapat mempengaruhi  penilaian mereka  tentang diri  mereka  sendiri  serta  masyarakat.  Bahan-bahan  belajar  yang  dimaksud adalah  bahan-bahan belajar  yang  membedakan  peran gender laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan  Indonesia  (Anonim,  2008)  membuktikan  bahwa  buku-buku pelajaran sarat dengan nuansa bias gender lebih dari 50 persen, meskipun telah dilakukan  perbaikan,  namun  masih  ditemukan  bias  gender  dalam  buku  ajar. Salah  satu  bentuk  bias  gender  seperti  dalam  memberikan  contoh: menggambarkan anak perempuan bekerja di dalam rumah, sedangkan anak laki-laki  membantu  ayahnya  bekerja  di  kebun.  Selain  berupa  gambar,  penokohan selama  ini  menggambarkan  bagaimana  perempuan  adalah  sosok  yang  lemah lembut,  penyayang  dan  cantik,  sedangkan  laki-laki  digambarkan  sebagai pemimpin, kuat, dan suka bekerja keras. 
Wanita  lebih  banyak  berpartisipasi  dalam  bidang  studi  yang  berbeda dengan pria  (seperti  lebih banyak mengambil  ilmu  sastra dan  ekonomi  rumah tangga  daripada  eksakta).  Jumlah  siswa  perempuan  yang memilih  jurusan  IPA atau  matematika  di  SMU  lebih  kecil  proporsinya  sehingga  mereka  lebih  sulit untuk memasuki berbagai jurusan keahlian di perguruan tinggi, misalnya dalam berbagai  bidang  teknologi  dan  ilmu-ilmu  eksakta  lainnya.  Pada  kedua  jenis jurusan  keahlian  itu,  proporsi mahasiswi  hanya mencapai  19,8  persen. Di  lain pihak mahasiswi lebih dominan dalam jurusan-jurusan keahlian terapan bidang manajemen (57,7 persen), pelayanan jasa dan transfortasi (64,2 persen), bahasa dan sastra (58,6 persen) serta psikologi (59,9 persen) (Suryadi dan Idris, 2004).
Bassey dkk (2008) melakukan sebuah studi mengenai “Gender Differences and Mathematics Achievement of Rural Senior Secondary Students  in Cross River State, Nigeria”. Penelitian tersebut dilakukan di wilayah pedesaan Nigeria. Hasil penelitian tersebut menghasilkan sebuah simpulan bahwa dalam mata pelajaran Matematika, laki-laki lebih unggul jika dibandingkan dengan perempuan. 
Perempuan dalam pembelajaran yang dilakukan di kelas,  identik dengan keterampilan  ”pekerjaan  ibu  rumah  tangga”.  Mereka  dituntut  untuk  bersikap tenang,  bersifat  menghargai,  penuh  perhatian,  dapat  dipercaya,  serta  mau bekerja  sama.  Untuk  laki-laki  harapan  lebih  didasarkan  pada  kriteria kemampuan  akademik  seperti  pengetahuan,  kecakapan  intelektual,  dan kebiasaan kerja  (Ollenburger dan Moore, 1995). Atas dasar nilai-nilai  tersebut, perempuan  di  sekolah  lebih  memilih  kegiatan-kegiatan  ekstrakurikuler  yang bersifat “feminim”, seperti seni. Laki-laki lebih menyukai kegiatan yang sifatnya “maskulin”  seperti  olah  raga  atau  kegiatan  pecinta  alam  yang  memang memerlukan fisik yang kuat.
  Perbedaan gender lain mempengaruhi pria dan wanita bereaksi di kelas:
a)      Wanita memiliki pendengaran lebih teliti daripada laki-laki dan lebih sensitif terhadap suara keras
b)      Pria memiliki visi lebih teliti daripada perempuan walaupun mereka lebih cenderung buta warna.
c)      Wanita lebih mampu membaca wajah dan bahasa tubuh.
d)     Pria lebih baik dalam kegiatan belajar kinestetik, dan perempuan mungkin merasa puas untuk hanya mengamati.
e)      Wanita dan laki-laki cenderung tidak mampu belajar matematika.
f)       Pria memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk kegiatan, lebih impulsif, dan mengembangkan keterampilan motorik daripada perempuan.
g)      Wanita lebih baik dalam kecepatan persepsi
h)      Laki-laki lebih mampu mengingat isyarat visual sedangkan perempuan lebih mampu mengingat penempatan objek dan kata-kata.
i)        Pria mengatasi stres melalui "tindakan," sedangkan perempuan melalui "sharing"
(James, Dalam Press)

C.    Perbedaan Gender dalam Pelajaran Matematika
Beberapa  hasil  penelitian  lain,  menunjukkan  bahwa  faktor  gender  mempengaruhi  cara memperoleh  pengetahuan  matematika.  Keitel  (1998),  Pinto  (1998),  dan  Susento  (2006), menunjukkan  bahwa  gender  merupakan  faktor  yang  cukup  berpengaruh  dalam  proses konseptualisasi.  Sebagai  contoh,  Keitel  (1998)  menyatakan,  “Gender,  social,  and  cultural dimensions  are  very  powerfully  interacting  in  conceptualizations  of  mathematics  education,...”.Adanya  pengaruh  faktor  gender  dalam  proses  konseptualisasi menunjukkan  bahwa gender dapat berpengaruh pada penggunaan intuisi dalam memahami konsep-konsep matematika.
Dari  sisi  perbedaan  gender,  ditemukan  bahwa  bukan  hanya  adanya  perbedaan  kemampuan dalam  matematika  yang  didasari  oleh  faktor  gender,  tetapi  cara  memperoleh  pengetahuan matematika juga terkait dengan perbedaan gender. Keitel (1998), Pinto (1998), dan Susento (2006), menunjukkan  bahwa  gender  merupakan  faktor  yang  cukup  berpengaruh  dalam  proses konseptualisasi.  Sebagai  contoh,  Keitel  (1998)  menyatakan,  “Gender,  social,  and  cultural dimensions  are  very  powerfully  interacting  in  conceptualizations  of  mathematics  education,...”. Karena itu, diduga bahwa ada kontribusi faktor gender dalam penggunaan intuisi.
Beberapa  penelitian  untuk  menguji  bagaimana  perbedaan  gender  berkaitan  dengan pembelajaran matematika,  laki-laki  dan  perempuan  dibandingkan  dengan menggunakan  variabel-variabel  termasuk  kemampuan  bawaan,  sikap,  motivasi,  bakat,  dan  kinerja  (Goodchild,  & Grevholm,  2007). Beberapa  peneliti  percaya  bahwa  pengaruh  faktor  gender  (pengaruh  perbedaan laki-laki-perempuan) dalam matematika adalah karena adanya perbedaan biologis dalam otak anak laki-laki dan perempuan yang diketahui melalui observasi, bahwa anak perempuan, secara umum, lebih unggul dalam bidang bahasa dan menulis, sedangkan anak laki-laki lebih unggul dalam bidang matematika karena kemampuan-kemampuan  ruangnya yang  lebih baik  (Geary, Saults, Liu, 2000). Akibatnya, perbedaan  gender dalam matematika  cukup  sulit diubah. Namun di  lain  sisi, berbagai kajian  menyatakan  bahwa  tidak  ada  peran  gender,  laki-laki  atau  perempuan,  yang  saling mengungguli dalam matematika  (Weaver, 2003) dan pada akhirnya, perempuan bisa lebih unggul dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan matematika.
Salah  satu  temuan  terkini  (Mullis,  2004),  baik  studi  nasional  maupun  internasional,
menunjukkan bahwa perbedaan gender dalam matematika mengalami penurunan, tahun demi tahun. Hasil  kajian  komparasi  internasional  yang  luas  merupakan  suatu  trend  dalam  penelitian  gender secara  internasional menunjukkan bahwa perbedaan hasil belajar matematika antara negara-negara jauh  lebih besar daripada perbedaan hasil belajar matematika antara anak  laki-laki dan perempuan (Mullis,  2004).  Namun  demikian,  belakangan  ini,  hasil  penelitian  tentang  adanya  pengaruh perbedaan  gender  seringkali  tidak  signifikan  secara  statistik.  Hasil-hasil  penelitian  terakhir menunjukkan  bahwa  anak  perempuan  secara  konsisten  memperoleh  prestasi  yang  lebih  baik daripada  anak  laki-laki  di  kelas.  Lingkungan  pendidikan,  dimana  perempuan  diharapkan diperlakukan  sama  dengan  laki-laki  memiliki  peran  penting  dalam  pengurangan  pengaruh perbedaan gender. 
Anak  laki-laki  dan  perempuan  adalah  berbeda,  dan  sebagai  akibatnya,  muncul  perbedaan tentang  cara  belajar mereka.  Contohnya, Orhun  (2007) menginvestigasi  hubungan  antara  gender dan  gaya  belajar.  Hasilnya menunjukkan  bahwa  terdapat  perbedaan  di  antara  gaya-gaya  belajar yang  lebih  disukai  oleh  siswa  laki-laki  dan  perempuan.  Studi  tersebut menemukan  bahwa  siswa perempuan lebih menyukai gaya belajar konvergen. Kemampuan belajar yang dominan konvergen menggunakan  konseptualisasi  abstrak  dan melakukan  eksperimentasi  secara  aktif.  Siswa  dengan gaya belajar  ini  lebih menyukai  inquiry  tipe discovery. Sedangkan  siswa  laki-laki dalam  studi  ini kebanyakan  lebih  suka  gaya  belajar  assimilator.  Kemampuan  belajar  yang  dominan  assimilator menggunakan  konseptualisasi  abstrak  dan  observasi  refleksi. Mereka  belajar  dengan melihat  dan berpikir.
Hasil-hasil penelitian yang diuraikan dalam bagian ini menunjukkan adanya keragaman hasil-hasil  penelitian  mengenai  peran  gender  dalam  pembelajaran  matematika.  Beberapa  hasil menunjukkan  adanya  faktor  gender  dalam  pembelajaran  matematika,  namun  pada  sisi  lain, beberapa  penelitian  mengungkapkan  bahwa  gender  tidak  berpengaruh  signifikan  dalam pembelajaran  matematika
D.    Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perempuan Lebih Berprestasi 
Pada dasarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor-faktor  tersebut  antara  lain  adalah  faktor  intern  yang merupakan  faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke  dalam  faktor  intern  yaitu  kecedersan  atau  intelegensi,  bakat,  minat  dan motivasi. Faktor berikutnya adalah faktor ekstern yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi  prestasi  belajar  yang  sifatnya  di  luar  diri  individu,  yaitu beberapa  pengalaman-pengalaman,  keadaan  keluarga,  lingkungan  sekitarnya dan sebagainya.
Ada  beberapa  argumentasi  yang  dapat  digunakan  untuk  menjelaskan perbedaan prestasi belajar   antara  laki-laki dan perempuan. Perempuan dalam hal  ini  diposisikan  sebagai  individu  yang memiliki  prestasi  belajar  yang  lebih baik  daripada  laki-laki.  Perempuan  pada  beberapa waktu  terakhir mengalami kemajuan  dalam  hal  prestasi  belajar,  perempuan  juga  dipandang  memiliki kesempatan yang lebih banyak dalam bidang publik. Perkembangan masyarakat industri  memberikan  peluang  yang  lebih  banyak  dalam  sektor  publik. Perempuan  dalam  bursa  pasar  kerja,  mendapat  kesempatan  yang  lebih  luas dalam  mengembangkan  karirnya,  terlebih  lagi  bagi  perempuan  yang  belum menikah.  Kondisi  ini  sangat  berbeda  dengan  masa  sebelum  era  industri berkembang  dengan  pesat.  Perempuan  pada  masa  itu  hampir  tidak  memiliki kesempatan  untuk  mengembangkan  kemampuannya  di  sektor  publik. Perubahan  tersebut  merefleksikan  perubahan  sikap  di  antara  perempuan (Haralambos  dan  Horlborn,  2004).  Ketika  perempuan  diberikan  kesempatan yang  sama  dengan  laki-laki  untuk mengembangkan  kemampuannya  di  sektor publik maka perempuan berupaya untuk mencapai  tingkat pendidikan setinggi mungkin. 
Mitsos  dan  Browne  (dalam  Haralambos  dan  Horlborn,  2004) menjelaskan bahwa  terdapat bukti yang dapat menjelaskan bahwa perempuan memiliki  tingkat  prestasi  belajar  yang  lebih  baik  daripada  laki-laki.  Menurut mereka perempuan  lebih  termotivasi dan bekerja  lebih  rajin daripada  laki-laki dalam  mengerjakan  pekerjaan  sekolah.  Motivasi  dan  keterampilan  organisasi yang  lebih  tinggi  pada  perempuan  memberi  mereka  keuntungan  dalam pekerjaan  yang  ikut  diperhitungkan  dalam  ujian  selanjutnya  daripada kemampuan perempuan pada masa lalu. 
Menurut Rushton (dalam Clerkin and Macrae, 2006) menjelaskan bahwa perbedaan  prestasi  belajar  laki-laki  dan  perempuan  lebih  disebabkan  oleh perbedaan  tingkat  inteligensi.  Laki-laki  lebih  aktif  daripada  perempuan.  Akan tetapi, keaktifan laki-laki ini kemudian menyebabkan laki-laki menjadi lebih sulit untuk diatur. Hal inilah yang menyebabkan  laki-laki memiliki  prestasi  belajar yang lebih rendah daripada perempuan. 
Laki-laki  sering  membuat  keributan  di  kelas.  Mereka  lebih  suka membolos daripada perempuan, yang kemudian menyebabkan laki-laki banyak kehilangan waktu belajarnya di kelas. Budaya maskulinitas mendorong  laki-laki untuk  berpenampilan  macho  dan  keras.  Mereka  kemudian  lebih  bersifat “antipendidikan”  dan  “antibelajar”,  bersekolah  kemudian  dilihat  sebagai kegiatan  yang  tidak  macho  (unmacho)”.  Kemunduran  hasil  pekerjaan  tangan laki-laki  disebabkan  oleh  kurangnya  motivasi  laki-laki  dalam  mengerjakan pekerjaan  di  kelas.  Berkurangnya  kesempatan  bagi  sekelompok  laki-laki memungkinkan  rendahnya  kepercayaan  dan  penghargaan  diri  laki-laki  dalam kelompoknya. 
Kepercayaan  diri  perempuan  yang  lebih  baik  daripada  laki-laki  dalam menyelesaikan  tugas-tugas  belajarnya,  turut  mendukung  prestasi pendidikannya.  Mitsos  dan  Browne  mengatakan  bahwa  secara  singkat  dan umum  ketika  laki-laki  menyukai  sepak  bola,  permainan  olahraga  atau  game dalam komputer dan menarik diri dari aktivitas “perempuan”, perempuan lebih suka  membaca  atau  berdiam  diri.  Perempuan  lebih  mengembangkan keterampilan  berbahasa mereka  daripada  laki-laki,  dan  sejak  sekolah menjadi sarana  untuk  mengembangkan  keterampilan  berbahasa,  laki-laki  mengalami kemunduran  dalam  prestasi  karena  laki-laki  kurang  memusatkan  perhatian pada  keterampilan  berbahasa  (Haralambos  dan  Horlborn,  2004).  Mitsos  dan Browne  kemudian  menempatkan  perhatian  pada  aktivitas  membaca. Perempuan  lebih  suka  membaca  daripada  laki-laki.  Seorang  ibu  lebih  suka membaca  cerita  untuk  anak-anaknya  daripada  ayah.  Hal  ini  kemudian menyebabkan  perempuan  mengikuti  peran  yang  sama  dengan  ibunya  yang mendorong mereka untuk suka membaca daripada  laki-laki. Ketika perempuan beranjak dewasa perempuan  lebih suka membaca buku  fiksi daripada  laki-laki. Buku  fiksi  adalah  buku  yang  sering  dibaca  pada  awal-awal  tahun  di  sekolah dasar. Hal  ini memberikan kemampuan membaca  yang  lebih  pada  perempuan (dalam Haralambos dan Horlborn, 2004).
Francis  memberikan  penjelasan  mengenai  perbedaan  prestasi  belajar antara  laki-laki  dan  perempuan.  Menurut  Francis,  perbedaan  tersebut disebabkan  faktor  kepercayaan  diri  dan  ambisi  (Haralambos  dan  Horlborn, 2004).  Laki-laki mendominasi  kelas  dan  lebih  banyak menarik  perhatian  guru daripada  perempuan.  Kemudian,  prestasi  belajar  perempuan  mengalami kemajuan  meskipun  laki-laki  tetap  mendominasi  interaksi  di  kelas.  Perilaku sebagian  laki-laki  yang  “merusak”  memiliki  dampak  yang  negatif  dalam pendidikan  laki-laki dan perempuan. Harapan akan prestasi yang  rendah pada laki-laki  menyebabkan  dampak  negatif  dalam  mencegah  laki-laki  untuk mengembangkan  prestasi  lebih  cepat  daripada  perempuan.  Francis  meyakini adanya motif berprestasi yang besar pada diri perempuan. Hal ini menyebabkan perempuan memiliki motivasi untuk berprestasi yang lebih besar daripada laki-laki.
Giddens  (2006)  menyatakan  bahwa  perempuan  seringkali  lebih  baik dalam melakukan  organisasi  dan memiliki motivasi  yang  lebih  tinggi  daripada laki-laki.  Perempuan  juga  terlihat  lebih  dewasa  daripada  laki-laki.  Satu manifestasi dari hal  faktor  ini adalah bahwa perempuan memelihara hubungan dengan  percakapan  dan  keterampilan  verbal.  Laki-laki  di  sisi  yang  lain bersosialisasi  menggunakan  cara  yang  lebih  aktif  dengan  olahraga,  game komputer dan bermain di lapangan dan lebih suka membuat keributan di kelas. Pola  perilaku  tersebut  kemudian  diafirmasi  oleh  guru  di  kelas,  yang memiliki harapan  yang  lebih  rendah  pada  laki-laki  daripada  perempuan  dan menempatkan  keributan  laki-laki  dengan  memberikan  perhatian  yang  lebih pada  mereka.  Dengan  kata  lain,  perilaku  laki-laki  yang  lebih  suka  membuat keributan merupakan satu aspek yang diperhatikan guru dan perilaku  tersebut menyebabkan  guru memiliki  harapan  yang  lebih  rendah  daripada  perempuan, artinya,  individu  yang  membuat  keributan  dianggap  sebagai  individu  yang kurang memiliki harapan untuk mampu berprestasi. 

KESIMPULAN
1)      Perbedaan jenis kelamin sebenarnya bukanlah sebuah  faktor pembeda yang mempengaruhi  prestasi  belajar,  namun  variabel  sosiallah  yang mempengaruhi perbedaan  tersebut.  Variabel  tersebut  salah  satunya  adalah  penilaian  pendidik dalam  menanggapi  karakter  atau  sifat  antara  laki-laki  dan  perempuan. Penghargaan  diri  dan  kepercayaan  diri  siswa  laki-laki  dan  perempuan turut  dipengaruhi  oleh  perlakuan  dan  harapan  pendidik  atas  diri mereka. Pendidik harus  memperlakukan  mahasiswa  laki-laki  maupun  perempuan  secara  adil sesuai  dengan  kekhasan mereka. 
2)      Peran pendidik merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran.  Bagaimana cara pendidik memperlakukan siswanya dapat  mempengaruhi  pencapaian  prestasi belajar mahasiswa. Untuk itu, pendidik harus memberikan motivasi dan penghargaan atas prestasi yang diraih peserta didik. Selain itu, pendidik harus memotivasi mahasiswa untuk meningkatkan budaya membaca kepada peserta didiknya. Hal ini  dikarenakan  kebiasaan  membaca  turut  mempengaruhi  prestasi  belajar siswa.














DAFTAR PUSTAKA

James, A. N. 2007. Gender Differences and the Teaching of Mathematics. Virginia Community College System. http://www.vccaedu.org/inquiry/inquiry-spring-2007/i-12-James.html diakses pada tanggal 23 Maret 2011.

Kaino, L.M. 1998. Undergraduates’ Attitudes And The Study Of  Mathematics At The University Of Swaziland.   University of Swaziland, Swaziland. http://www.google.co.id/webhp?hl=id&tab=Tw&q=Perbedaan%20gender%20dalam%20pembelajaran#q=Gender+differences+in+learning+mathematics+pdf&hl=id&biw=1024&bih=434&prmd=ivns&ei=l7OJTYzoN4HsrQfvkcnBDg&start=20&sa=N&fp=c494e1b41d517086 diakses pada tanggal 23 Maret 2011.
Muthukrishna, Nithi. 2010. Gender Differences In Mathematics Achievement: An Exploratory Study At A Primary School In Kwazulu-Natal. http://www.faqs.org/periodicals/201012/ 2187713391.html diakses pada tanggal 23 Maret 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar